Life is full of choices... Make sure you pick the right one. Don't listen to the voices. Hear only yours and you have won. Your looks are your own. Someone will always love you. You will never be alone. Look in the mirror and you will see who!!
DutchEnglishSpainFrenchGermanRussianJapaneseChinese SimplifiedItalianArabicKorean
Tampilkan postingan dengan label CERMIN HATI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERMIN HATI. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2012

Satu Jabatan Yang Tidak Pernah Diperebutkan




Jabatan selalu diperebutkan itu memang lazimnya begitu. Apalagi jabatan itu bergensi misal saja paling top menjabat sebagai presiden, menteri, anggota DPR, gubernur, bupati, camat, lurah, dan sebagainya.  Mengapa jabatan tersebut diperebutkan karena menaikkan harga diri, popularitas, mendapat kehormatan, disegani, bahkan pendapatan dan fasilitas yang menggiurkan. Walaupun kalau ditanya jawabannya klasik, ingin mengabdi kepada negara, ingin memperjuangkan nasib kaum yang tertindas, dsb.
Jabatan pada karir di pekerjaan juga diperebutkan karena posisi kosongnya cuma satu jadinya diperebutka oleh beberapa atau banyak pekerja. Misal jabatan supervisor diperebutkan oleh beberapa teknisi, jabatan kepala seksi diperebutkan oleh beberapa supervisor, dan seterusnya. Karena skema organisasi di perusahaan seperti piramid yang makin lancip ke atas, dimana misalnya dalam satu departemen sebuah perusahaan hanya ada satu manager, jadi pantas kalau diperebutkan.
Tidak pernah kejadian para kepala seksi saling memberi kesempatan kepada kepala seksi lain untuk lebih dulu menjadi manager, bahkan sebaliknya saling bersaing, contoh sehatnya, bersaing berprestasi.
Anda pernah sholat berjamaah di masjid atau di mushola, ada posisi atau ada jabatan kosong yakni menjadi imam sholat, itu juga jabatan mulia jika dilakukan dengan baik tentu pahalanya kelak di sisi Allah SWT sangatlah tinggi. Tapi jarang sekali kejadian jabatan imam itu diperebutkan, bahkan saling mempersilakan orang lain untuk memngkunya. Biasanya kalau di mushola saling tunjuk yang secara fisik (yang kelihatan lansung) paling memungkinkan untuk menjadi imam misalnya yang berkopiah, yang berserban, bahkan yang sudah berumur  tua.

Jumat, 10 Februari 2012

SOAL HUJAN :


Orang yang pintar dengan wawasan luas, sering menjadi tempat bertanya bagi mereka yang berada di sekitarnya, begitupun mereka yang tahu tentang banyak hal. Sebaliknya, mereka yang sok pintar atau sok tahu, acap kali malah menjengkelkan lingkungannya.

Seorang pemilik sebuah minimarket yang sedang berdiri di dekat kasir mendengar salah seorang penjaga toko terlibat pembicaraan dengan ... seorang pembeli. "Memang, Bu, sudah beberapa minggu ini tidak ada. Tampaknya masih lama datangnya, mungkin memang belum musimnya."

Karena jengkel dengan apa yang baru saja didengarnya, si pemilik toko lari mengejar pembeli tadi yang sedang berjalan ke luar toko. Dengan penuh sopan santun ia berkata, "Maaf, Bu, yang baru saja dikatakan pegawai saya itu tidak benar. Tentu kita akan segera mendapatkan apa yang Ibu inginkan. Kami sudah memesannya beberapa minggu yang lalu."

Setelah masuk kembali, ia segera menarik lengan penjaga toko dan menghardiknya, Jangan sekali-kali mengatakan kepada para pelanggan bahwa kita tidak mempunyai sesuatu. Kalau kebetulan barang yang diinginkan pembeli tidak ada, katakan saja bahwa kita sudah memesannya dan pesanan itu pasti akan segera datang. Tahu kamu!!!" Aneh yang dimarahi hanya melongo.

"Heh! Kamu mengerti atau tidak?"
Si penjaga tetap saja bengong.
"Omong-omong, apa yang dibicarakan pembeli tadi?"
"Soal hujan," jawab si pegawai toko itu.

-HS

Cermin Indah Yang Terlupakan




Suatu ketika, sepasang suami istri, Dorman, mengadakan 'garage sale' untuk menjual barang-2 bekas yg tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.


Saat mengumpulkan barang2 yg akan dijual, mereka menemukan benda2 yg su...dah lama tersimpan di gudang. Salah satunya sebuah cermin hadiah pernikahan mereka, tiga puluh tahun yll.


Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yg berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Cermin itu teronggok di loteng. Setelah tiga puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dg barang lain untuk dijual keesokan hari.


Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang2 yg datang untuk melihat barang bekas yg mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku2, pakaian, alat berkebun, mainan anak2, bahkan radio tua yg sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.


Seorang lelaki menghampiri Bu Dorman.


"Berapa harga cermin itu?" katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi.


bu Dorman tercengang. "Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh ingin membelinya?" katanya.


"Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus." jawab pria itu.


Bu Dorman tidak tahu berapa harga yg pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga.


Setelah berpikir sejenak, Bu Dorman berkata, "Hmm ... anda bisa membeli cermin itu untuk sepuluh ribu rupiah saja."


Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang puluhan ribu dan memberikannya kepada Bu Dorman.


"Terima kasih," kata Bu Dorman, "Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?"


"Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang." jawab si pembeli sambil mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dg satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!


"Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!" sorak pria itu dengan gembira.


Bu Dorman tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.


Kisah ini sekedar menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita sendiri. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pegi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.


Sama halnya dengan pasangan Dorman yg hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah.


Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita. Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?


Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Bu Dorman menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak.


Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.


Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar lebih banyak, mengenal orang lebih baik. Mari kita melakukan sesuatu yang baru. Mari kita membuat perbedaan! Dengan suatu semangat baru untuk menjalani hidup lebih baik setiap hari.


Source : intisari, lupa.